Daftar Jenis Pemborosan atau Limbah di Industri Tekstil dan Garment

Posted on

Pengurangan limbah merupakan faktor penting dalam sektor tekstil dan garmen. Pengurangan biaya yang efektif dari pembuatan pakaian dapat dilakukan dengan mengidentifikasi area tertentu dari penghasil limbah secara jelas dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mengontrol dan mengurangi pemborosan. Karena penting peran pengurangan limbah, artikel ini menyajikan semua area penghasil limbah di industri manufaktur tekstil dan pakaian jadi.
Area penghasil limbah di Industri Tekstil dan Pakaian:
Area berikut adalah area penghasil limbah utama atau titik pembuangan di industri manufaktur pakaian jadi:
1. Proses pembuatan kain,
2. Pengolahan basah kain,
3. Proses pemotongan kain,
4. Proses menjahit pakaian,
5. Perlakuan khusus pakaian,
6. Aksesoris,
7. Penanganan material.

Limbah Industri Tekstil dan Garment
Semua area penghasil limbah di atas akan dibahas sebagai berikut:
1. Proses Pembuatan Kain:
Kain dibuat terutama dengan dua teknik yaitu merajut dan menenun. Dalam kasus pembuatan kain, area penghasil limbah adalah-
Limbah perajutan:
Proses rajut meliputi jumlah benang percobaan produksi yang terbuang, sisa benang dalam cones, sisa benang pada mesin, cacat rajutan, pembuatan gulungan benang, dll.
Limbah pertenunan:
Proses pertenunan menghasilkan limbah dari penghanian (warping), penganjian (sizing), penggulungan benang pakan. Limbah yang terjadi di sini adalah berasal dari sisa benang yang tidak seimbang pada creel dan cone, kuantitas percobaan produksi, cacat menenun, pembuatan gulungan benang, dll.

2. Pengolahan Basah Kain:
Pengolahan basah kain meliputi proses persiapan seperti de-sizing, scouring, bleaching, merserisasi, pengaturan panas, dll. Pencelupan, printing dan finishing.
Limbah proses basah:
Ini termasuk kain awal atau pancingan, sambungan ujung kain, sampel pengujian, cacat yang tidak dapat diperbaiki seperti lubang, tambalan, lot marking dll. Dalam semua proses di atas. satu lagi faktor atau properti yang harus dipertimbangkan adalah penyusutan kain selama tahap pemrosesan basah. Ini bukan penghasil limbah tetapi sebuah faktor yang sangat terkait dengan pengurangan kain.

3. Proses Pemotongan Kain:
Ini adalah tahap paling penting dalam produksi pakaian karena hanya di sini, persentase utama penghasil limbah kain terjadi. Persentase pemotongan jumlah limbah tergantung pada efisiensi perencanaan pola pakaian tertentu.
Perencanaan pola pakaian dengan efisiensi 85-90% dianggap sebagai efisiensi yang sangat baik. Jadi, pemborosan terjadi dalam pemotongan dapat berkisar antara 10-15%. Selain itu limbah dihasilkan dalam pemotongan dapat terjadi karena kelebihan panjang, pembuatan pola yang buruk, tumpang tindih atau tailing, pemotongan yang buruk dll. Pemborosan juga dapat terjadi saat bundling dan penyortiran potongan-potongan dalam bentuk ujung yang menyatu , tepi berjumbai, kualitas buruk dari drill dll.

4. Proses Jahit Pakaian:
Pemborosan dalam menjahit pakaian terjadi dalam bentuk potongan yang rusak yang tidak sesuai dengan standar persyaratan pelanggan. Ini mungkin disebabkan oleh cacat jahitan, cacat seaming, cacat assembling, masalah penyetrikaan, pengerjaan buruk, dll. Jenis pemborosan/limbah ini dikenal sebagai reject.

5. Perlakuan Khusus:
Pembuatan pakaian juga meliputi perlakuan khusus seperti bordir, sequence work, smocking, garment washing atau finishing pakaian jadi, dll. Masing-masing perlakuan ini melibatkan persentase tertentu dari pemborosan/limbah.

6. Aksesoris:
Pembuatan pakaian membutuhkan berbagai jenis aksesori yang dapat diklasifikasikan sebagai aksesori produksi dan aksesori pengemasan. Aksesoris produksi termasuk label utama, label perawatan cuci, appliques, kancing, ritsleting, stiker; kotak karton dll persediaan yang buruk dan penanganan aksesoris ini dapat menyebabkan lebih banyak pemborosan. Beberapa aksesori mungkin telah dibeli dari luar negeri yang mungkin tidak tersedia secara lokal.

7. Penanganan Material:
Tingkat penanganan material di semua departemen atau segmen di atas memainkan peran penting dalam jumlah penciptaan limbah/pemborosan. Penanganan material berarti tidak hanya bahan baku utama tetapi juga bahan yang terlibat dalam proses atau departemen tertentu.
Misalnya, penanganan bahan pewarna dan bahan kimia yang buruk dalam proses basah dapat menyebabkan rembesan atau menumpahkan pewarna dan bahan kimia yang mahal. Penanganan material yang efektif dan efisien menggunakan teknik dan metode modern akan mengurangi biaya pemborosan secara signifikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *